Suasana pagi

Seperti hari-kari sebelumnya, aku berangkat dari rumah 10 menit sebelum jam enam. Sampai di sekolah sekitar jam 06.40.

Ruang guru masih sepi sekali. Di halaman aku bertemu 1 orang guru merangkap PKM. Di ruang guru ada 2 orang.

Situasi ini biasa aku temui. Memberi ku kesempatan untuk beristirahat sebelum memulai manggung di kelas.

Tapi, hari ini, seharusnya sudah banyak yang datang, karena para wali kelas VII harus menemani siswa kelas masing-masing ziarah ke makam Eyang Cibaduyut.

Rupanya pesan semalam tak terbaca. Yah, bagaimana lagi. Pesan baru masuk sekitar tengah malam waktunya orang terlelap dan terbuai mimpi.

Sekitar jam 07.00 mulai berdatangan para guru. Ruangan pun jadi ramai. Riuh rendah suara yang ngobrol, ketawa menjadikan suasana hidup.

Tahun ajaran sekarang, alhamdulillah, aku masih dipercaya tugas di MTs Nurul Iman. Masih dipercaya membimbing, menularkan ilmu di kelas VII. Tanpa tugas tambahan.

Aku senang tapi ada rekan2 yang tidak senang. Hehehehe..  Harusnya jadi wali kelas, sudah senior. Lhah, aku mah kumaha kepercayaan pimpinan sekolah aja. Bener ga.

Sing penting jalani tugas amanah ini seprofesional seoptimal mungkin.

Dear Diary,

Hari ini aku ke pasar, membeli kebutuhan dapur sekalian suamiku nitip buat mengisi kekosongan di warung kecil kami.

Kami punya warung sembako. Awalnya warung ini ramai isi dan pembeli. Kami berbahagia, bersyukur pada Illahi yang telah memudahkan urusan kami dalam berdagang. Bertahun-tahun kami menikmati suasana riang ini.

Namun di tahun ke-11 warung kami mulai mengalami kemunduran. Diawali dengan seringnya diriku sakit parah, berulang kali ke dokter yang menyebabkan suamiku harus menutup warungnya karena menemaniku periksa kesehatan, kemudian aku diopname cukup lama. Berkali kali aku dirawat di rumah sakit. Berkali kali dan berminggu-minggu pula suamiku menutup warung kami. Kami akhirnya hidup dari penghasilanku saja tanpa ada tambahan apapun. Segitu pun kami bersyukur, karena Allah masih memberikan rizki pada kami bertiga. Allah masih memberikan kemudahan pada kami untuk mencari nafkah tambahan, untuk mendapatkan tambahan biaya untuk kehidupan kami. Walaupun terkadang uang gajiku pun habis untuk membeli obat ku. Uang Rp. 3.000.000 sebulan gajiku. Dan kuhabiskan kadang hanya dalam waktu 3 minggu. Keperluan sehari-hari, kami utamakan pembayaran listrik, obat, baru lah urusan dapur teakhir.

Keadaan ini berlangsung bertahun-tahun. Sempat kami merasakan kebangkitan kembali warung sembako kami. Hanya sebentar tak sampai setahun. Aku pun ambruk kembali.

Begitu selanjutnya. Hingga tahun ini, bulan ini, kami benar-benar dalam posisi kehabisan. Untuk belanja warung dan dapur, listrik dan telepon harus tarik sana-sini, belum lagi biaya untuk ongkos ku kerja dan anakku sekolah.

Kemarin, hasil dagang di hari sebelumnya hanya ada Rp. 100.000,-. Sedangkan kami sudah tak punya beras, tak punya bahan makanan yang bisa kami makan demi kesehatan kami yang sedang ambruk. Aku dan suamiku sedang sakit, suamiku lebih parah kondisinya. Kolesterol dan tekanan darah nya lebih tinggi daripada kadar kolesterol dalam darahku dan tekanan darahku. Ya, kolesterol kami sedang naik melebihi ambang normal, jauh di atas normal, begitu pula tekanan darah kami.

Memeriksakan diri ke puskesmas karena tak ada biaya, hanya diberi paracetamol, vitamin dan amlodipine (obat tekanan darah tinggi). Obat kolesterol beli sendiri (untung murah, hanya Rp. 13.000). Untukku parasetamol tak ada pengaruh penyembuhan, sakit kepala tak berkurang sedikitpun. Aku lebih baik jika minum obat warung, Oskadon (eh, bukan iklan).

Hari ini aku membawa uang Rp. 200.000 ke pasar, membeli kebutuhan warung Rp. 170.000,- sisanya untuk kekperluan dapur selama 2 hari ke depan.

Selesai belanja kuhitung sisa uang di kantong. Masih ada sisa Rp. 8.000,-. Alhamdulillahirabbil alamiin. Masih ada sisa segitu. Bisa untuk simpanan hari ini.

Ya Allah, semoga apa yang kubeli, kumasak dan kusiapkan untuk keluargaku mendapat berkah dan ridho dari Mu.

 

 

Dear Diary,

aku ingin sekali berbagi cerita pengalamanku membagi ilmu pada murid-muridku. Ingin ku ceritakan pada orang-orang di luar sana. terutama saat-saat kami bermain untuk belajar bersama. Namun keinginan itu hanya sebuah keinginan.

Masih terbayang dengan jelas dalam ingatanku, dalam hatiku, dalam penglihatanku. Saat kubercerita secara lisan pada teman-teman di lingkungan kerjaku. Saat kusampaikan secara gamblang dengan ringan tanpa ada maksud pamer atau ingin dapat pujian, tatapan mata mereka yang setengah tertawa, menganggap tak mungkin bisa berhasil, ucapan mereka bahwa itu terjadi karena di kelas ku, di kelas mereka tak bisa dilakukan, karena berbeda mata pelajaran. Ada pula yang mengatakan, anak-anak malah tak bisa serius menerima, suasana kelas malah jadi ribut tak karuan.

Masih terngiang dengan jelas pula lontaran kalimat dari mereka, saat melihatku membuat media pembelajaran, menyiapkan dalam berbagai bentuk media pula. saat melihatku membuat perangkat administrasi guru yang sedikit berbeda dari mereka. Berbeda, karena aku ingin mencatat hasil dari setiap pertemuanku dengan murid di kelas. Apa kata mereka? “Rajin amat, banyak sekali, untuk dapat penghargaan ya? yang penting mah ngajar we, ga usah repot-repot. Ibu ingin cepat jadi kepala sekolah ya? ”

WHAAATT? NO, I DON”T WANT TO BE IN ANY POSITION. I JUST WANT TO TEACH!!

Masih terdengar jelas pula, saat mereka mengatakan, yang ga punya anak kecil mah, bisa santai pagi hari sehingga bisa datang ke sekolah tidak terlambat.

Mereka menyindirku. Mereka sepertinya kurang suka melihatku yang selalu hadir tepat waktu, kira-kira 15-10 menit sebelum saatnya murid-murid masuk kelas, walaupun jam mengajarku bukan jam pertama.

Kenapa mereka begitu ya, Diary?

Kenapa mereka menuduhku ingin mendapat perhatian lebih dari atasan, ingin mendapat pujian, ingin dapat penghargaan tak hanya dari atasan langsung tetapi juga dari departemen yang menaungi sekolahku, ingin mendapat jabatan yang lebih tinggi?

apakah aku salah dengan segala tindakanku sebagai guru?

Apakah salah kalau aku memberi saran masukan untuk proses pembelajaran yang lebih menyenangkan kepada mereka, di saat mereka mengeluhkan kondisi kelas belajar pada jam pelajaran mereka?

Katanya bertanya, saat kujawab apa adanya malah mengejek, ngeyel.

Karena aku merasa di sekolah bukanlah tempatku berbagi pengalaman, maka kutuangkan pengamanku kukisahkan pengalamanku hanya padamu. Duluu.. itu dulu… aku masih bisa bercerita padamu. Ternyata Diary, ceritaku padamu pun meeka tahu. Entah bagaimana. Akibatnya semakin hari mereka semakin berusaha menjauhkanku dari mereka, dari murid-muridku.

Selalu ada cara untuk membuatku terjatuh, tapi aku selalu bangun lagi.

Hingga hari itu pun tiba.

Mereka menyampaikan tulisanku di sebuah media sosial kepada kepala sekolah. Tulisan tentang keluhanku, kegundahanku pada rekan-rekan di manapun yang sering datang terlambat ke sekolah. Tulisanku itu tidak kutujukan pada mereka. Aku tidak menyebutkan guru-guru di mana yang sering begitu. Karena sebelum menuliskan tentang itu aku membaca banyak keluhan dari banyak temanku di dunia maya (sesama guru dari berbagai penjuru di Indonesia) tentang hal yang sama. Terlambatnya para guru di sekolah mereka saat jam pertama atau jam ke nol. Teman-teman di dunia maya malah lebih vulgar menyebutkan guru yang mana yang mereka maksud. Sedangkan aku, aku hanya menuliskan simpulanku ternyata memang umum guru datang terlambat ke sekolah, untuk masuk memulai pelajaran di kelas, dalam bentuk pertanyaan “Kenapa”.

Masih ingatkah kau, Diary? Aku pernah bercerita padamu tentang ini kan? Namun kemudian kuhapus ceritaku padamu. Tak hanya kejadian itu yang kuhapus dari lembaranmu, tapi juga hampir seluruh kisah pengalaman pembelajaranku di sini karena aku khawatir nanti ada yang membaca ceritaku, dan akan berimbas lebih buruk lagi.

Tentu kau masih ingat, bagaimana aku menangis tak henti-hentinya di bahumu. bagaimana pedihnya hati ini, saat aku harus menerima keputusan diusir dari sekolah itu. DIUSIR. Tanpa aku mendapat kesempatan untuk berargumen. Baik kepada kepala sekolah maupun kepada pihak departemen di sana.

terpaksa, aku mencari tempat baru. Akhirnya melalui seorang teman yang menjadi seorang kepala sekolah, aku pun mendapat tempat di tempatnya bertugas.

Di tempat baru ini aku bersyukur, semua orang menerimaku, menerima masukanku dalam proses pembelajaran, walaupun jam mengajarku sendiri menjadi jauh berkurang. Tak ada yang menyindirku, bisa begini dan begitu karena sudah tak punya anak kecil, bahkan kulihat mereka menjadi terpacu untuk berbuat seperti yang kusarankan. Padahal mereka juga punya anak kecil,lho! Mereka malah termasuk honorer, yang kehidupan penghasilan dari pekerjaan mereka tak seberapa dibanding yang menjadi PNS. Mereka orang-orang yang penuh semangat. Penuh gairah untuk bercinta. Bercinta dengan pembelajaran, dengan pendidikan di sekolah. Demi keberhasilan anak didik kami.

Sayang, waktuku hanya sebentar di sini.Aku harus berpindah tempat karena sistem kurikulum dari pemerintah.

Aku memasuki sekolah yang baru. Aku berharap penuh, mereka mau menerimaku seperti di tempat ku yang ke -2. Di tempat baru ini, harapan itu muncul karena melihat rekan-rekanku orang-orang yang penuh semangat kerja.

Tapi, aku salaah… ternyata. Ada saja di antara mereka yang tidak bisa menerima kehadiranku dengan segala sikap pembelajaran di kelasku. Padahal di sini, aku tak pernah mengusulkan, memberi masukan apapun tentang bagaimana proses pembelajaran yang menyenangkan, yang sudah pernah kupraktikkan di kelas. Tak pernah aku menyinggung soal kehadiran siapapun. Aku hanya memikirkan keberlangsungan hidupku di tempat ini. Aku hanya memikirkan bagaimana agar semua muridku menerima ilmu dari ku dengan mudah.

Tetap saja di antara mereka ada yang menyampaikan padaku secara langsung, bahwa aku tak perlu rajin. Tak perlu rajin datang pagi-pagi, sesekali perlu datang terlambat, tak perlu  masuk kelas cepat-cepat, biarkan anak di kelas santai dulu saat pergantian pelajaran. Tak perlu rajin membuat media pembelajaran, tak perlu rajin membuat bahan /modul pelajaran.

Buat apa? Toh, tak akan ada yang menghargai kinerja Ibu yang seperti itu. Tak akan ada penghargaan, tak akan ada promosi jabatan, tak akan ada.

Itulah Diary, sampai hari ini masih kurasakan pedihnya, hingga rasa ketakutan ini tak pernah bisa hilang. Bukannya menghilang menipis, malah semakin tebal. Bahkan untuk bercerita hanya padamu.

Hari ini aku kuatkan hatiku bercerita kembali padamu, ungkapkan rasa takutku rasa sedihku. Takut dan sedih. Aku tak bisa lagi bercerita tentang pengalaman pembelajaranku. Tidak seperti rekan-rekanku yang bahkan mulai bermunculan mengisahkan pengalaman mengajar mereka. Aku sekarang menjadi sosok yang hanya bisa memandang di sudut ruangan, melihat bagaimana rekan-rekanku bersorak sorai gembira saat mereka tahu kisah mereka diterima oleh berbagai pihak dengan tangan terbuka.

 

 

Pencitraan

Dear Diary,

Akhir-akhir ini istilah “Pencitraan” kerap muncul, di mana-mana. di bidang politik, pendidikan bisnis, sepertinya hampir di semua lini pekerjaan.

Apakah makna pencitraan? Orang yang diberi  Piala Citra (karena dia pemain film handal)?

Bukaaaannn…..

 

 

Sore Ini

Dear Diary,

Tahu ga kamu, seore ini dari jam 17.00 an aku sudah pipis 8 kali. Banyak-banyak lagi keluarnya.

Heu… cape memang.. tapi gimana lagi? Daripada aku ngompol. Ya ngga? Kapan ya aku bisa normal lagi seperti dulu? tanpa pampers/pembalut, tanpa khawatir rembes air kencing ke celana. Tanpa perlu ada rembessan air kencing setelah selesai kencing. sudah kucoba senam Keggel. Sudah kucoba obat-obatan medis, hasilnya malah ada yang bikin aku gatal-gatal dan bentol-bentol di sekujur kepala, leher dan selangkangan.

Aku masih belum berani minum herbal atau obat ramuan alami lainnya. minum hijau malah membuatku sakit kepala, kalau lagi sakit kepala, malah nambah sakitnya, sakit kepala jadi hebaat. Minum ramuan alami lainnya, malah bikin kadar kolesterolku naik drastis. Gimana donk?

 

 

 

Subject-Verb Agreement (1)

Complete the following sentences with the right verb form in brackets.

  1. Yadi is an architect. He ….                 high buildings in this city. (design/designs)
  2. A Boeing 747 airplane …                                hundreds of passengers. (carry/carries)
  3. Every Sunday we …..                this household. (do/does)
  4. They are astronauts. They          …             the outer space for years. (explore/explores)
  5. That rhino       …..      a horn on his nose. (have/has)
  6. My cat …         under the sofa. (sleep/sleeps)
  7. Kholil ……                                     his patients carefully.   ( examines/examines)
  8. They   always      ….                    those stoves after they finish cooking. (clean/cleans)
  9. A servant or a maid      ….      someone who works at somebody else’s home. (are/is)
  10. Fenti …..                a secretary.  (are/is)
  11.  She   …..                schedules for her manager. (arrange/arranges)
  12. A greengrocer        ….            vegetables. (sell/sells)
  13. We never    ….              sheep in our farm.  (keep/keeps)
  14. Carrots    …     good for our visions.  (are/is)
  15. That waiter always         …..           the customers nicely. (serve/serves)
  16. They ….         many apple pies every Wednesday. (make/makes)
  17. Kangaroos           …..     their children in their pockets.  (carry/carries)
  18. Sometimes a policeman …..    his whistle when he controls the traffic. (blow/blows)
  19. His mother …….       a minister in this country. (are/ is)
  20. Rasyid and I   ….        gardeners. (are/am)

Where Can I Stay?

Saya sering mengadakan permainan dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Biasanya saya mengulang-ulang bentuk permainan yang kami lakukan. Namun, kadang saya merancang juga permainan lainnya agar anak tidak jenuh dan cocok untuk materi yang dipelajari hari itu.

Sebuah permainan yang sangat digemari murid-murid saya adalah berebut pindah tempat duduk.

Bagaimana cara memainkannya?

Berikut ini adalah gambaran bagaimana saya mempersiapkan dan melakukannya bersama murid-murid di kelas. Permainan ini dapat digunakan untuk semua jenjang pendidikan dan semua mata pelajaran.

Tujuan : siswa dapat bertanya jawab dengan menggunakan Bahasa Inggris

Materi : WH-questions

Tema  : bebas

Level   : Semua level

Alokasi Waktu: 20 menit

Bahan : kartu tema : Karton manila atau kertas warna

Prosedur:

  1. Persiapan :
  2. Guru membuat kartu tema, misalnya: your father’s job, number of friends, the use of hammer, etc.
  3. Guru menyiapkan daftar nilai dan rubric penilaian
  4. Siswa berlatih bertanya jawab menggunakan 5 W + 1 H
  5. Pelaksanaan:
  6. Seorang siswa maju/ berdiri.
  7. Seorang siswa yang duduk mengambil 1 kartu tema. Dia bacakan isi kartu
  8. Siswa yang berdiri membuat pertanyaan sesuai tema dalam kartu.
  9. Jika pertanyaan tidak sesuai tema, maka dia harus terus berusaha bertanya hingga bisa.

Contoh :

Kartu  bertuliskan : “the use of a pan”

Siswa bertanya : “What is a pan for?” pada temannya yang duduk

  1. Jika dia dapat membuat pertanyaan dengan benar maka semua siswa termasuk guru berpindah tempat duduk. (Catatan: kursi guru tidak lagi diduduki)
  2. Siswa yang tidak mendapat kursi harus berdiri.
  3. Seorang siswa yang duduk mengambil kartu tema dan membacakannya.
  4. Siswa yang berdiri harus membuat pertanyaan sesuai tema dalam kartu.
  5. Jika dia dapat membuat pertanyaan yang sesuai maka guru dan semua siswa harus berpindah duduk lagi.
  6. Siswa yangtidak mendapat kursi harus berdiri.
  7. Ulangi kegiatan 2-5 sampai semua siswa mendapat giliran berdiri.
  8. Setelah usai, guru dan siswa membahas bentuk pertanyaan yang sesuai tema (tema yang belum dipahami siswa)

 

Selamat mencoba!!

 

Belajar ngeblog lagi

Hari ini,

Minggu 10 Agustus, 2014, bertemu kembali dengan Om Jay dan Pak Dedi Dwitagama di SMK Bahagia.

Event ini diselenggarakan oleh relawan TIK Kota Bandung, disponsori 3perussahaan, satu di antaranya : Telkom.

Oya,Ketua Relawan TIK Jabar pun hadir (rasanya saya pernah dikenalin ke beliau oleh Bu Nina KH dari STT Telkom)

Pembicara pertama:Dedi Dwitagama. Judulnya Guru Inspiratif.

Siapa guru hebat? Adalah guru yang bisa hidup bersama dengan siapapun, menghargai kemampuan dan keterbatasan orang lain, dan tetap produktif,rela /ikhlas berbagi dengan sesama.

 

matanya masih terpejam….mudah-mudahan segera terbuka sehingga dapat melihat sekelilingnya dengan lebih tajam, lebih teliti, dan lebih waspada

(opiniku tentang pembuat keputusan penentuan kelulusan sekolah di Indonesia sejak tahun 2001 hingga saat ini)

« Older entries