APLIKASI PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

Belajar itu penting bagi semua orang. Dan belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja dengan cara apapun. Istilah belajar itu sendiri memiliki makna memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum dimiliki.

Bermain merupakan hal yang sangat diminati semua orang, baik muda maupun tua. Dengan bermain segala hal yang menjadi masalah seakan hilang, dengan bermain suasana hati pun menjadi gembira.

Belajar dan bermain merupakan dua kata kunci dalam artikel ini. Keduanya saling berkaitan. Pembelajaran di sekolah menjadi sangat berarti dan menyenangkan bagi siswa bila di dalam proses pembelajaran pendidik menerapkan permainan-permainan.

Permainan yang diharapkan tentu saja sesuai dengan materi pokok yang akan atau sedang dipelajari saat itu. Belajar sambil bermain tidak hanya diperlukan bagi siswa yang duduk di level /tingkatan mula (Taman Kanak-kanak ataupun sekolah dasar). Belajar sambil bermain hendaknya diterapkan pula pada proses pembelajaran di level yang lebih tinggi (menengah bahkan pendidikan tinggi). Dan belajar sambil bermain bisa dilakukan dalam proses pembelajaran apapun, tidak dibatasi oleh ruang lingkup bidang studi ataupun bahan ajar.

Jenis-jenis permainan apa sajakah yang bisa dipakai dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah? Tentu hal ini memerlukan kepiawaian pendidik dalam memilah dan memilih bentuk permainan yang sesuai.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bentuk permainan adalah:

1. kelompok usia siswa; 2. jumlah siswa; 3. teknik prosedur permainan; 4. waktu untuk pelaksanaan. Ke empat faktor ini saling berkaitan. Sebagai contoh: bila peserta siswa adalah murid sekolah menengah pertama maka pendidik masih bisa mengadopsi banyak permainan anak-anak sehingga suasana kelas menjadi menyenangkan karena siswa menjadi lebih bergairah dalam usaha menguasai materi. Bila seorang pendidik mengajar di kelas besar maka persiapan untuk melakukan permainan akan berbeda dengan persiapan untuk di kelas kecil. Yang perlu dipertimbangkan adalah bila melakukan permainan di kelas besar tentu waktu yang diperlukan pun akan menjadi lebih lama, sehingga teknik permainan pun harus dibuat pendek tapi tetap seoptimal mungkin.

Untuk siswa yang lebih muda tentu pola permainan dipilih yang sederhana. Biasanya siswa usia 11-14 tahun masih memiliki semangat tinggi untuk melakukan permainan yang menguras tenaga. Mereka akan merasa cepat bosan dengan pola permainan yang statis dan bersifat pasif.

Sedangkan bila seorang pendidik ingin menerapkan permainan pada murid sekolah menengah atas maka jenis permainan pun yang lebih menarik umumnya yang memerlukan asah otak yang lebih tajam serta konsentrasi yang lebih kuat.

Contoh kongkrit: permainan menggunakan flash cards. Permainan ini bisa diterapkan bagi siapa saja dan materi apapun. Dalam pembelajaran matematika misalnya, seorang pendidik menyiapkan soal-soal yang akan diberikan dalam bentuk flash cards. Pada saat pelajaran berlangsung, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Dari setiap kelompok diminta satu orang siswa untuk mewakili kelompoknya maju dan mengerjakan soal. Penyajian soal dapat dengan cara: membacakan flash card atau memperlihatkan isi flash card dalam waktu tertentu (hitungan detik). Kemudian siswa-siswa wakil dari setiap kelompok berlomba menuliskan jawaban atau cara penyelesaian soal di papan tulis. Atau dapat pula pendidik melakukan teknik permainan yang lain. Siswa duduk berkelompok. Pendidik memperlihatkan isi flash card atau membacakan soal. Untuk menentukan soal yang dibaca agar lebih menarik, mintalah seorang siswa untuk memilih kartu. Lalu setiap kelompok berlomba untuk menjawab/ menyelesaikan soal dengan benar.

Setelah semua kartu selesai dibacakan atau waktu permainan sudah habis maka pendidik beserta siswa membahas satu persatu jawaban yang diberikan tadi dan melakukan pengoreksian jawaban.

Permainan lain: Naik-naik Ke Puncak gunung. Semua pasti mengenal lagu ini. Ya, belajar sambil bermain dan bernyanyi. Untuk permainan ini persiapannya lebih mudah. Pendidik hanya perlu menyiapkan suatu benda (apapun, sebaiknya yang sederhana). Pola permainan ini adalah mentransfer benda yang dipegang kepada teman sambil bernyanyi. Dimulai dari pendidik. Seluruh isi kelas bernyanyi, pendidik mulai mengoper benda yang dipegang kepada seorang siswa yang posisinya terdekat. Siswa ini kemudian mengoper benda tersebut kepada temannya sementara menyanyi terus berjalan. Pada saat lagu berhenti maka pemindahan benda pun harus berhenti. Siswa yang sedang memegang benda tersebut harus menyelesaikan soal yang diberikan. Begitu seterusnya hingga seluruh soal terjawab atau waktu habis. Soal yang dijawab pun bisa dipilih secara acak oleh pendidik. Siswa yang dapat menjawab dengan tepat mendapat hadiah.

Dan masih banyak lagi jenis permainan yang dapat diberikan di dalam proses pembelajaran, dari yang hanya memerlukan sedikit (bahkan tanpa) persiapan alat hingga yang paling rumit.

Sekali lagi, pendidik hendaknya jangan ragu ataupun merasa tak mampu memberikan teknik pembelajaran yang menyenangkan yang dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih giat lagi meningkatkan kemampuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: