manfaat interview dalam penyusunan teks prosedur.

Share lagi yah..

Hari ini aku meminta muridku untuk membuat teks prosedur tentang pembuatan alat2 rumah tangga terbuat dari tanah liat.  Di awal kegiatan, mereka harus mendapatkan berbagai informasi tentang : jenis2 alat rumahtangga yang terbuat dari clay, bahan2 yang diperlukan dalam pembuatannya, serta cara membuatnya.

Murid2 ku kebingungan dari mana mereka bisa mendapatkan informasi selengkapnya.  kukatakan, mereka bisa mendapatkannya dari mana saja, ke perpustakaan untuk mendapatkan buku-buku mengenai alat2 rumah tangga tersebut, bertanya pada orang-orang di sekitar sekolah.

Mereka pun mengikuti anjuranku.  Yang pergi ke perpustakaan menemukan  buku-buku yang dimaksud, ada yang bertanya pada orang lain. Orang2 yang mereka tanyai di antaranya, beberapa guru yang sedang tidak ada jam mengajar, Satpam sekolah kami, kakak2 mereka di madrasah Aliyah.

Setelah mereka mendapatkan informasi yang cukup, lalu dimulailah penulisan teks prosedur dalam bahasa Inggris.  Dalam waktu dua jam pelajaran bereslah tugas tersebut.  Mereka mengumpulkan hasil pekerjaannya.

Saat ku periksa,  pertama-tama yang kucek adalah content dari teks tersebut. Yang kumaksud dengan pengecekan content di sini adalah ketepatan isi tiap bagian (sekedar mengingat: dalam teks prosedur ada nama benda yang dibuat, bahan, dan cara), kemudian penamaan benda dan bahan, urutan cara, dan penggunaan kata2 dalam bagian cara membuat.

Pada pemeriksaan kali ini aku mengabaikan grammar point, karena tujuan pembelajarannya adalah siswa dapat mengungkapkan teks prosedur dalam bahasa Inggris.  Pada pertemuan selanjutnya dengan menggunakan teks prosedur ini aku akan mengupas kesalahan grammar. Nah, pada pertemuan kedualah tujuan pembelajaran adalah menyusun teks prosedur dengan baik.

Setelah selesai kuperiksa (aku memeriksa sendiri tidak mendiskusikannya di kelas), kutemui ternyata mereka yang mendapat informasi dengan cara bertanya / interview dapat menghasilkan teks prosedur yang lebih lengkap dibandingkan dengan murid2 ku yang mendapat informasi dari buku dan internet.

Saat refleksi, murid-murid menyatakan pendapatnya. Kelompok yang melakukan interview mengatakan bahwa semula mereka merasa takut dan ragu untuk melakukan interview terutama jika harus bertanya pada guru lain. Namun, ternyata orang-orang yang mereka wawancarai sangat membantu mereka, memberikan informasi sedetil mungkin (terutama Bapak satpam kami, ..thanks  Pak Nedi, :D). Kelompok yang mendapat informasi dari buku dan internet mengeluhkan minimnya informasi yang disajikan di buku2 tersebut dan rasa ragu mereka saat harus browsing.  Kelompok terakhir ini adalah kelompok2 yang merasa segan menginterview guru.

Kuakhiri pertemuan dengan nasihat “Janganlah engkau ragu bertanya pada siapapun di sekolah asalkan ilmu yang kau dapat dari mereka bermanfaat bagimu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: