My English Class

Hari ini jadwal mengajar di kelas VIII dua kelas dan kelas IX dua kelas.

Kelas VIII.

Masuk kelas, greeted the students, asked them what they did this morning. Niatnya sih, mengajarkan procedural recount text. Setelah bertanya saya akan bercerita my special activity this morning.

Tapi, namanya juga rencana. Belum selesai mendengarkan jawaban siswa  sudah mulai ada yang jahil di kelas.  Main lempar-lemparan kertas. OK deh, kalau itu maumu.

Ga jadi deh menerangkan karena biasanya kalau sudah diawali dengan hal-hal jahil kecil seperti itu dan dibiarkan (hanya menegur murid yang jahil) semakin larut mereka dalam kejahilan lainnya yang lebih parah dan kadang berbahaya.

“Prepare a piece of paper, listen to me then complete these sentences.”  “Lho, Bu, ulangan? Tes?” spontan beberapa murid bertanya.  “Yes, we’re having a test now. I will not explain anything today. I see that you all are getting clever and no need to listen to my explanation on new lesson. ”

Saya ulangi kalimat saya dalam bahasa Indonesia, “Kita tes aja ya. Kelihatannya kalian tidak perlu mendapat penjelasan tentang materi yang baru akan Ibu sampaikan hari ini. Langsung saja tes materi hari ini.”

“Wah, bu, ga bisa dong. Terangin dulu dong, baru nanti  tes, kan gitu biasanya. ”

“Kalau Ibu menerangkan sekarang, percuma saja, yang mendengarkan hanya segelintir di antara kamu, dan yang lain sibuk berbicara masing-masing.”

Dalam benak saya, saya heran dengan kelas delapan tahun ini, hanya setengah dari jumlah murid yang mau belajar. Bila diberi permainan, maka pola permainan menjadi brutal.  Memang anak-anak angkatan ini lebih banyak yang bertingkah preman akibat broken home dan berasal dari lingkungan yang keras dan kasar.  Akibatnya saya selalu sibuk mencari cara agar anak2 ini bisa berubah menjadi murid yang mau mendengarkan, berpartisipasi aktif dalam pelajaran, bukan sibuk dengan urusannya masing-masing. Bila saya memberi pengetahuan baru dengan metode yang sama dengan kelas-kelas terdahulu dan saya anggap berhasil, ternyata untuk kelas delapan tahun ini hampir semua metode dan langkah pembelajaran berantakan di tengah jalan.

Singkat kata, pelajaran di kelas itu diawali dan diakhiri dengan tes Listening. Saya tuliskan beberapa kalimat rumpang di papan tulis. Murid harus mendengarkan teks yang saya bacakan kemudian melengkapi kalimat2 tersebut. Berhubung kata-kata yang harus diisikan adalah kosa kata baru yang sedianya akan saya jelaskan sebelum tes, maka jadilah murid-muridku sayang terbengong-bengong, mau nulis apa ya?

(dalam hatiku, emang enak tes tanpa tahu isinya lebih dulu)

Kubacakan teks procedural recount itu berulang kali, lebih dari 4 kali. (kalau tadi saya bahas dulu saya hanya akan perlu membaca dua atau tiga kali.)

Sampai bel tanda pelajaran usai berbunyi, 90 persen kertas mereka kosong…. Saya sedih, sebab  mereka begitu parah sikap belajarnya.

Kemudian saya masuk kelas 8 yang lain.

Langsung disambut salam, dan tatapan penuh harap mendapat ilmu baru.

Proses belajar berjalan mulus sesuai lesson plan, hingga…..suatu kali….

Saatnya kerja kelompok. Hasil dari kegiatan pada saat kerja kelompok ini akan menjadi dasar bentuk tes bagi kegiatan evaluasi di akhir pertemuan.  Bentuk kegiatan kerja kelompok saya susun serupa dengan kegiatan pada evaluasi, hanya nanti pada saat evaluasi mereka bekerja sendiri. Setiap orang harus mendengarkan procedural text yang saya bacakan kemudian menjawab pertanyaan dan melengkapi kalimat rumpang berdasarkan informasi dalam teks.

Saya baru membaca dua kalimat pertama saat mulai terdengar suara meja ditabuh berkali-kali oleh beberapa siswa. (Suara tabuhannya pun sungguh nyaring) Hmmm….. mereka lupa kalau harus mendengarkan dan menulis.  Saya berhenti membacakan teks, saya tanya, “Have you got the answers for some ofthe questions here?” Saya ulang pertanyaan dalam bahasa Indonesia, “Sudah ada pertanyaan yang bisa dijawab?”

” Belum, Bu.” Sebagian menjawab,” Not yet, ma’am.”  ” Well, now I let you think of the answers for those numbers by yourselves. I’m no longer going to read anything. I stop reading.”

“Lha terus gimana jawabnya?” “I said that you must  think of the answers by yourselves. Discuss it with your team.”

(ternyata kelas ini ga jauh beda dengan kelas yang satunya).

Padahal kalau tadi kegiatan tersebut tidak terganggu, akan saya teruskan dengan membahas jawaban melalui games.

Hmm… pola belajar bagaimana yang harus saya terapkan pada mereka esok hari? RPP sudah dibuat, masak harus diganti dengan yang baru? Langkah kegiatan lain apa yang harus saya susun agar mengena dengan sasaran pelajaran dan target ajar?

Besok rencananya saya mau melanjutkan dengan kompetensi reading; menggunakan games: gantian membaca dalam kelompok, kelompok yang mendapat nilai terbaik itu yang menang, kelompok yang kalah joged di tempat; serta akan ada tanya-jawab yang dilontarkan dari satu kelompok ke kelompok lain, anggota kelompok yang tak dapat segera menjawab harus keluar dari kelompok, kelompok yang menang adalah yang bisa mempertahankan anggota kelompoknya dalam grup.

Kira-kira berhasil tidak ya? Can’t wait for tomorrow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: